Oh Detikku!

Posted in Uncategorized on Juni 7, 2009 by TaQ

Saya mendapati bahwa satu detik dari waktu kita mungkin kita lalui  dengan banyak sekali kebaikan. Membaca ayat-ayat al-Quran misalnya, setiap huruf yang kita baca berpahala 10 kebaikan, jika dalam ayat yang kita baca 10 huruf, maka 100 kebaikan yang akan kita dapatkan, itu baru satu ayat jika beberapa ayat yang kita baca, jadi berapa kebaikan yang akan kita himpun? Subhanallah..

Membaca 100 (subhanallah wa bihamdihi) juga bisa kita baca dalam satu detik, Rasulullah bersabda bahwa “barangsiapa membaca  subhanallah wa bihamdihi 100 kali diampuni dosa-dosanya” (HR. Bukhori dan Muslim)

Saya coba mengkonsentrasikan mata saya pada dua halaman dari buku dalam satu detik -Anda mungkin bisa lebih dari saya-, kita baca surat al fatihah tujuh kali dalam satu detik dan lain sebagainya. Jika kita coba hitung kebaikan dari membaca al-Fatihah, maka akan kita dapati lebih dari 1400 kebaikan (pahala) yang akan kita dapatkan. Begitu juga membaca surat al-Ikhlas 20 kali dalam satu detik. Anda ragu? silahkan anda coba…

Maksud saya adalah mari kita coba menguji harga satu detik dari usia kita. Maka kita akan mendapati sesungguhnya dalam satu detik itu terdapat sekian kejadian yang bermakna dan bisa kita lakukan untuk melaluinya dengan berdzikir, membaca Al-Quran, berdoa, tadabbur, belajar, menulis, dan aktivitas bermanfaat lainnya yang berharga bagi tabungan akhirat kita, insha Allah..

Iklan

Jumat Mubarak!!

Posted in Uncategorized on Mei 28, 2009 by TaQ

Malam jumat yang penuh berkah. Asrama tidak seperti biasanya terasa sunyi dan hening. Riuh tawa dan nada-nada siulan tak terdengar sejenak nurah dan asma’ memanjatkan do’a-doa khotmil qurannya. Sajian malam yang cukup membuat setiap hati berkonsentrasi pada setiap sulaman doa yang menentramkan kalbu itu. Dari ruang Syeikh Muhammad Nabhan bin Husein al-Mashry doa-doa itu terdengar merdu mencairkan kebekuan setiap hati yang mendengarkannya.

Suasana Khotmil Quran semacam ini terhitung sangat langka dijumpai pada tahun ini dibanding tahun-tahun sebelumnya yang marak hampir setiap bulan ada 2-3 mahasiswi yang mampu menghatamkan hafalan al-Qurannya bersama Syeikh Nabhan. Tahun ini hanya 8 mahasiswi saja yang mampu menghatamkan hafalannya dengan tiga qiraat (3 imam dalam teknik membaca alQuran).

Penghuni Asrama ada yang hadir memenuhi ruang Syeikh ada juga yang merasa cukup mendengarkannya dari kamar-kamar mereka.  Suasana haru yang jauh dari kesan meriah, jauh berbeda dengan suasana haflah khotmil Quran yang digelar di beberapa lembaga-lembaga keagamaan di Indonesia yang terkesan berlebihan sehingga nyaris kehilangan nilai kekhusyukannya.

Khotmil Quran malam ini cukup digelar sangat sederhana. Tidak terdengar satupun tepuk tangan bahkan nyaris tak terdengar satu pun kata terlontar dari mulut-mulut kami. Kesederhanaan itulah yang membuat kami tidak memiliki kesempatan untuk mengungkap keharuan dan kekaguman kami dengan tepuk tangan dan riuhan panjang kami.

Doa-doa yang dipanjatkan Nurah untuk diberikan keluasan – ampunan, dan menempatkannya dalam rahmatNYA –  kuburan Ayahnya yang baru beberapa bulan berpulang keharibaanNya, membuat setiap mata meneteskan butiran mutiaranya. Doa-doa Yang disulam Asma untuk Bunda tercintanya juga tidak kalah membuat mata dan hidung  mengalirkan sekian cairan yang menyejukkan setiap hati yang mendengarkannya, karena seorang Bunda memiliki peran yang tidak dapat dihitung dengan matematika dalam mendidik dan menghardik kami dengan aliran semangatnya agar kami dapat menjemput bola sukses -biidznillah- kami.

Doa-doa keduanya untuk menganugerahkan kepada kami – penghuni asrama – kecintaan terhadap Al-Quran sebagaimana Allah telah menganugerahkan kepada mereka kecintaan dan kemudahan dalam menghafal dan menghatamkannya, merupakan harapan yang akan terus memicu kami berlomba membenahi diri kami, insha Allah…

Setelah keduanya berdoa, kesempatan diberikan kepada Syeikh Nabhan untuk menutup khotmil Quran. Syeikh Nabhan menutupnya dengan mengingatkan kami untuk memperbanyak shalawat kepada Nabi SAW di malam ini (malam jumat) sampai besok menjelang maghrib. Karena barangsiapa bershalawat  kepada Nabi SAW satu shalawat, Allah akan bershalawat padanya sepuluh kali, dihapuskan darinya sepuluh kesalahan dan ditinggikan derajatnya sepuluh derajat, dan ditulis baginya sepuluh kebaikan.

Wallahu a’alam bish shawab.

Hari ini Milik Kita

Posted in Uncategorized on Mei 15, 2008 by TaQ

Jika kita berada di pagi hari, janganlah menunggu sore tiba. Hari inilah yang akan kita jalani, bukan hari kemarin yang telah berlalu dengan segala kebaikan dan keburukannya, dan juga bukan esok hari yang belum tentu datang. Hari yang saat ini mataharinya menyinari kita, dan siangnya menyapa kita inilah hari kita.

Umur kita, mungkin tinggal hari ini. Maka, anggaplah masa hidup kita hanya hari ini, atau seakan-akan kita dilahirkan hari ini dan akan mati hari ini juga. Dengan begitu, hidup kita tak akan tercabik-cabik diantara gumpalan keresahan, kesedihan dan duka masa lalu dengan bayangan masa depan yang penuh ketidakpastian dan acapkali menakutkan.

Pada hari ini pula, sebaiknya kita mencurahkan seluruh perhatian, kepedulian dan kerja keras. Dan pada hari inilah, kita harus bertekad mempersembahkan kualitas shalat yang paling khusyu’, bacaan al-Qur’an yang sarat tadabbur, dzikir dengan sepenuh hati, keseimbangan dalam segala hal, keindahan dalam akhlak, kerelaan dengan semua yang Allah berikan, perhatian terhadap keadaan sekitar, perhatian terhadap kesehatan jiwa dan raga, serta perbuatan baik terhadap sesama.

Pada hari dimana kita hidup saat inilah sebaiknya kita membagi waktu dengan bijak. menjadikan setiap menitnya laksana ribuan tahun dan setiap detiknya laksana ratusan bulan. Menanam kebaikan sebanyakbanyaknya pada hari itu. Dan, mempersembahkan sesuatu yang paling indah untuk hari itu. Ber-istighfar-lah atas semua dosa, ingatlah selalu kepada-Nya, bersiap-siaplah untuk sebuah perjalanan menuju alam keabadian, dan nikmatilah hari ini dengan segala kesenangan dan kebahagiaan! Terimalah rezeki, isteri, suami, anak-anak, tugas-tugas, rumah, ilmu, dan jabatan kita hari dengan penuh keridhaan.

{Maka berpegangteguhlah dengan apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang yang bersyukur.} (QS. Al-A’raf: 144)

Hiduplah hari ini tanpa kesedihan, kegalauan, kemarahan, kedengkian dan kebencian.

Jangan lupa, hendaklah kita goreskan pada dinding hati kita satu kalimat (bila perlu kita tulis pula di atas meja kerja kita): Harimu adalah hari ini. Yakni, bila hari ini kita dapat memakan nasi hangat yang harum baunya, maka apakah nasi basi yang telah kita makan kemarin atau nasi hangat esok hari (yang belum tentu ada) itu akan merugikan kita? Jika kita dapat minum air jernih dan segar hari ini, maka mengapa kita harus bersedih atas air asin yang kita minum kemarin, atau mengkhawatirkan air hambar dan panas esok hari yang belum tentu terjadi? Jika kita percaya pada diri sendiri, dengan semangat dan tekad yang kuat kita akan dapat menundukkan diri untuk berpegang pada prinsip: aku hanya akan hidup hari ini. Prinsip inilah yang akan menyibukkan diri kita setiap detik untuk selalu memperbaiki keadaan, mengembangkan semua potensi, dan mensucikan setiap amalan.

Dan itu, akan membuat kita berkata dalam hati, “Hanya hari ini aku berkesempatan untuk mengatakan yang baik-baik saja. Tak berucap kotor dan jorok yang menjijikkan, tidak akan pernah mencela, menghardik dan juga membicarakan kejelekan orang lain. Hanya hari ini aku berkesempatan menertibkan rumah dan kantor agar tidak semrawut dan berantakan. Dan karena hanya ini saja aku akan hidup, maka aku akan memperhatikan kebersihan tubuhku, kerapian penampilanku, kebaikan tutur kata dan tindak tandukku.”

Karena hanya akan hidup hari ini, maka aku akan berusaha sekuat tenaga untuk taat kepada Rabb, mengerjakan shalat sesempurna mungkin, membekali diri dengan shalat-shalat sunah nafilah, berpegang teguh pada al-Qur’an, mengkaji dan mencatat segala yang bermanfaat. Aku hanya akan hidup hari ini, karenanya aku akan menanam dalam hatiku semua nilai keutamaan dan mencabut darinya pohon-pohon kejahatan berikut ranting-rantingnya yang berduri, baik sifat takabur, ujub, riya’, dan buruk sangka.

Hanya hari ini aku akan dapat menghirup udara kehidupan, maka aku akan berbuat baik kepada orang lain dan mengulurkan tangan kepada siapapun. Aku akan menjenguk mereka yang sakit, mengantarkan jenazah, menunjukkan jalan yang benar bagi yang tersesat, memberi makan orang kelaparan, menolong orang yang sedang kesulitan, membantu yang orang dizalimi, meringankan penderitaan orang yang lemah, mengasihi mereka yang menderita, menghormati orang-orang alim, menyayangi anak kecil, dan berbakti kepada orang tua.

Aku hanya akan hidup hari ini, maka aku akan mengucapkan, “Wahai masa lalu yang telah berlalu dan selesai, tenggelamlah seperti mataharimu. Aku tak akan pernah menangisi kepergianmu, dan kamu tidak akan pernah melihatku termenung sedetik pun untuk mengingatmu. Kamu telah meninggalkan kami semua  pergi dan tak pernah kembali lagi.”

“Wahai masa depan, engkau masih dalam kegaiban. Maka, aku tidak akan pernah bermain dengan khayalan dan menjual diri hanya untuk sebuah dugaan. Aku pun tak bakal memburu sesuatu yang belum tentu ada, karena esok hari mungkin tak ada sesuatu. Esok hari adalah sesuatu yang belum diciptakan dan tidak ada satu pun darinya yang dapat disebutkan.”

“Hari ini milik kita”, adalah ungkapan yang paling indah dalam “kamus kebahagiaan”. Kamus bagi mereka yang menginginkan kehidupan yang paling indah dan menyenangkan.

Diterjemahkan dari 33 sebab kebahagiaan karya: DR. Aidl Al Qarni

Hadir dan Mengalir

Posted in Uncategorized on Februari 22, 2008 by TaQ

“Hadirkanlah aktivitas sel yang menyusun tubuhmu!” Suatu kali saya diingatkan oleh diri saya yang lain untuk merasakan aktivitas sel dalam tubuh saya, walau sering sekali saya cuek dan tidak menyadarinya.

“Hadirkanlah sekian nikmat tidak terhingga yang menyertai kehidupanmu!” Pada kesempatan yang lain nasehat itu mengajak ruang hati saya untuk menghidupkannya dengan cahaya-Nya, walau tidak jarang saya lupa mensyukurinya.

“Mengaliri kehidupan dengan aliran energi kebaikan!” Sebuah pernyataan yang membuat saya selalu berusaha kembali bertanya kebaikan apa yang sudah saya lakukan pada jenak yang baru saja berlalu, walau berkali-kali saya lengah dan tidak dapat mengelak dengan ajakan menyesatkan oleh sosok diri saya yang lain.

Inilah mengapa ruang ini HADIR sebagai salah satu media saya untuk selalu dapat menghadirkan karunia yang diberikan Allah untuk upaya saya mengikat makna kehidupan ini, juga sebagai modal saya MENGALIRkannya kepada siapapun yang berkenan menerimanya.